TUGAS 5
MANAJEMEN
KELAS DI SD
Tentang
KOMPONEN-KOMPONEN
KETERAMPILAN MANAJEMEN KELAS

Oleh:
RESI HAYATI
1620158
7.4 PGSD
Dosen
Pembimbing:
Yessi
Rifmasari, M.Pd
SEKOLAH TINGGI
KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIAPADANG
2019
A. Pengertian
Komponen Keterampilan Mengelola Kelas
Komponen
keterampilan manajemen kelas adalah keseluruhan kemampuan yang dimiliki oleh
guru dalam menyelesaikan tugasnya sebagai manajemen kelas.
Keterampilan
mengelola kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara
kondisi belajar yang optimal, dan keterampilan untuk mengembalikan kondisi
belajar yang optimal, apabila terdapat gangguan dalam proses belajar baik yang
bersifat gangguan kecil dan sementara maupun gangguan yang berkelanjutan.
Menurut
(Majid, 2014) pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan
memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya jika terjadi
gangguan dalam proses belajar mengajar.
Menurut
(Mulyasa, 2013) pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan
iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi gangguan
dalam pembelajaran. pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk
menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya
bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.
Berdasarkan
pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan mengelola kelas
merupakan keterampilan yang digunakan oleh seorang guru dalam proses
pembelajaran guna untuk mengkondisikan belajar siswa dengan harapan supaya
terjadi suatu kondisi kelas yang kondusif, memaksimalkan sarana dan prasarana,
menjaga keterlibatan siswa, menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang
optimal dan rasa nyaman dalam proses belajar mengajar. Maka dalam melaksanakan
keterampilan mengelola kelas, perlu memperhatikan komponen keterampilan yang
berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal.
Hal ini berkaitan dengan kemampuan seorang guru dalam mengambil inisiatif dan
mengendalikan pelajaran.
B.
Macam-Macam
Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
Komponen-komponen keterampilan
pengelolaan kelas ini pada umumnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu
keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi
belajar yang optimal (bersifat preventif ) dan keterampilan yang berhubungan
dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal. Keterampilan yang berhubungan
dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal terdiri dari
keterampilan sikap tanggap, membagi perhatian, pemusatan perhatian kelompok.
Keterampilan dalam mengelola kelas dapat
dikelompokkan menjadi dua macam yaitu:
1.
Preventif,
keterampilan yang berkaitan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar
yang optimal.
2.
Represif,
keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal.
Pada
keterampilan preventif, berkaitan dengan kemampuan guru didalam mengambil
inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta kegiatan-kegiatan yang berhubungan
dengan hal tersebut yaitu:
a.
Sikap
tanggap
Seorang
guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada
siswa dan memberikan tanggapan-tanggapanatas perilaku tersebut dengan maksud
tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan memunculkan perilaku
susulan yang kurang baik. Komponen ini ditunjukan oleh tingkah laku guru bahwa
ia hadir berasama mereka.
Guru
tahu kegiatan mereka, tahu ada perhatian atau tidak ada perhatian, tahu yang
mereka kerjakan. Seolah-olah mata guru ada di belakang kepala, sehingga guru
dapat menegur anak didik walaupun guru sedang menulis di papan tulis.
Sikap ini dapat dilakukan dengan cara:
1) Memandang
secara seksama
Memandang secara seksama dapat
mengundang dan melibatkan anak didik kontak pandang dalam pendekatan guru untuk
bercakap-cakap, bekerja sama dan menunjukan rasa persahabatan.
2) Gerak
mendekati
Gerak guru dalam posisi mendekati
kelompok kecil atau individu menandakan kesiagaan, minat dan perhatian guru
yang diberikan terhadap tugas serta aktivitas anak didik. Gerak mendekati
hendaklah dilakukan secara wajar, bukan untuk menakut-nakuti, mengancam atau
memberi kritikan dan hukuman.
3) Memberi
pernyataan
Pernyataan guru terhadap sesuatu yang
dikemukakan oleh anak didik sangat diperlukan, baik berupa tanggapan, komentar,
ataupun yang lainnya. Akan tetapi haruslah dihindari hal-hal yang menunjukan
dominasi guru, misalnya dengan komentar atau pernyataan yang mengandung ancaman
seperti: “ saya tunggu sampai kalian diam!”. “saya atau kalian yang keluar?”
atau “ siapa yang tidak senang dengan pelajaran saya, silakan keluar!”.
4) Memberi
reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan
Kelas tidak selamanya tenang. Pasti ada
gangguan. Hal ini perlu guru sadari dan jangan dibiarkan. Teguran guru
merupakan tanda bahwa guru ada bersama anak didik. Teguran haruslah diberikan
pada saat yang tepat dan sasaran yang tepat pula, sehingga dapat mencegah
meluasnya penyimpangan tingkah laku.
b.
Membagi
perhatian
Kelas
diisi oleh sejumlah orang (siswa) yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang
berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan pertolongan dari guru.
perhatian guru tidak hanya terfokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu
yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merata
kepada setiap anak yang ada di dalam kelas juga harus mampu membagi
perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama
agar pengelolaan kelas menjadi efektif. Membagi perhatian dapat dilakukan
dengan cara:
c.
Pemusataan
perhatian kelompok
Munculnya
kelompok informal di kelas atau pengelompokan karena disengaja oleh guru dalam
kepentingan pembelajaran membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan
perilakunya, terutama ketika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas
yang harus diselesaikan.
d.
Menegur
Permasalahan
bisa terjadi dalam hubungannya antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru.
Permasalahan dalam hubungan tersebut bisa terjadi dalam konteks pembelajaran,
sehingga guru sebagai pemegang kendali kelas harus mampu memberikan teguran
yang sesuai dengan tugas dan perkembangan siswa. Sifat dari teguran bukan dari
hal yang memberikan efek penyerta yang menimbulkan ketakutan pada siswa
tapi bagaimana siswa bisa tahu dengan kesalahan yang dilakukannya .
e.
Memberi
penguatan
Penguatan
adalah upaya yang diarahkan agar prestasi yang dicapai dan perilaku-perilaku
yang baik dan dipertahankan oleh siswa atau bahkan mungkin ditingkatkan atau
dapat ditularkan kesiswa lainnya. segala tingkah laku hendaknya diberi
penguatan baik itu penguatan positif maupun negatif dan teguran pada perilaku
siswa yang telah menyimpang. Pada keterampilan represif, berkaitan dengan
respon guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud agar guru
dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kodisi belajar yang
optimal.
C. Permasalahan
Dalam Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
1. Masalah
Individual
Ada empat jenis penyimpangan tingkah
laku, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain,mencari kekuasaan,
menuntut balas dan memperlihatkan ketidakmampuan.Keempat tingkah laku ini
diurutkan makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang
gagal menarik perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar
kekuasaan.
a) Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian)
Seorang siswa
yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan
sosial yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah
laku mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian
yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok),
membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya,
tukang rewel.
b) Powerseeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan)
Tingkah laku
mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam.
Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya
pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan
menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif
tampak pada anak-anak yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga tidak
melakukan apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan
secara pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.
c) Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam)
Siswa yang
menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia
sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Keganasan,
penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap sesama
siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering dilakukan
anak-anak ini.
d) Helplessness (peragaan ketidakmampuan)
Siswa yang memperlihatkan
ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu
yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap
tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada
dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus.
2. Masalah Kelompok
Ada tujuh masalah kelompok dalam kaitannya
dengan pengelolaan kelas:
a. Kurangnya
kekompakan : Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya
kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok.Konflik antara
siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk
kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Siswa-siswa di
kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga
mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa
tidak saling bantu membantu.
b. Kesulitan mengikuti
peraturan kelompok : Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa
tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua
muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok.
c. Reaksi
negatif terhadap sesama anggota kelompok : Reaksi negatif terhadap
anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan
terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu.
d. Penerimaan
kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang :Penerimaan kelompok (kelas)
atas tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong
timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari
norma-norma sosial pada umumnya.
e. Kegiatan
anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan,
berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota)
lainnya saja.Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu
dalam kelancaran kegiatannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Ekosiswoyo, Rasdi. 2000. Manajemen
kelas. Semarang: CV. Ikip.Semarang press
Terima kasih, sangat bermanfaat bagi saya
BalasHapusSangat bermanfaat kak
BalasHapusMakasih materinya kak
BalasHapusSangat bermanfaat kak👍
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat 👍
BalasHapusSangat bermanfaat sekali kak, semoga bisa diterapkan bagi sesama
BalasHapusbermanfaat sekali
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusMaterinya bermanfaat kak
BalasHapusMaterinya bagus, sangat bermanfaat🙏
BalasHapussangat bermanfaat kak.. semoga bisa diterapkan
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusSangat bermanfaat sekali
BalasHapusSangat bermanfaat, terima kasih
BalasHapusMaterinya lengkap
BalasHapus